Ketika maha guru marketing dunia Philip Kotler, berkunjung ke Indonesia dan didaulat jadi duta “Wonderful Indonesia”, awal Oktober 2015 oleh Kementerian Pariwisata, ada yang...

Ketika maha guru marketing dunia Philip Kotler, berkunjung ke Indonesia dan didaulat jadi duta “Wonderful Indonesia”, awal Oktober 2015 oleh Kementerian Pariwisata, ada yang menarik dari pernyataannya, “uncertainty is the new formula”. Dalam ilmu manajemen dikenal sebagai manajemen perubahan. Inilah yang harus dilakukan oleh pengambil kebijakan di dunia bisnis. Yaitu mengelola ketidakpastian pasar agar mampu menghasilkan keuntungan. Hal ini pula terjadi dalam dunia perbankan syariah. Pasar yang “tidak bersahabat” sejak 2015, memaksa pengelola perbankan syariah merelakan margin keuntungan bisnisnya terkoreksi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi ditambah dengan meningkatnya laju pembiayaan bermasalah yang memaksa cadangan PPAP (penyisihan penyusutan aktiva produktif) meningkat. Pos inilah yang kemudian menggerogoti keuntungan bisnis bank (contagion effect).

Di tengah situasi pasar tidak menentu inilah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membentuk perkumpulan marcomm (marketing communication) industri perbankam syariah yang dikenal dengan nama iBMarcom. Dalam perkembangannya iBMarcom ini tidak hanya diisi oleh insan industri perbankan syariah an-sich, namun meluas ke insan industri keuangan non bank syariah dan pasar modal syariah. Perkumpulan ini awalnya bertujuan mempercepat kemajuan perbankan syariah dengan cara edukasi pasar dan meningkatkan NoA (number of account). Selama satu tahun, iBMarcom ini melakukan fungsi marketing dengan jalan membuat event (pameran) seperti iBVaganza, Keuangan Syariah Fair, maupun membantu terwujudnya Pasar Rakyat Syariah. Inilah “kolam ikan” yang sedang dibuat oleh iBMarcom. Pameran ini dilakukan setiap bulan 1 kali dan bergiliran di setiap daerah yang dipilih. Pasar dan konsumen mall menjadi target pasar industri keuangan syariah baik bank, non-bank maupun pasar modal syariah. Kebersamaan pemasaran antarindustri keuangan syariah inilah yang saya sebut sebagai model “jamaah marketing”. Ini hampir mirip dengan model yang dikembangkan oleh Jay Conrad Levinson dalam bukunya “Guerrilla Maeketing (2006). Jadi pengertian jamaah marketing adalah model pemasaran dengan ruh kebersamaan untuk tujuan yang sama, meningkatkan dan memajukan industri keuangan syariah di Indonesia.

Apalagi, Presiden Jokowi menyatakan hal yang sama saat membuka “World Islamic Economic Forum (WIEF)” di Jakarta, 2 Agustus. Menurut Jokowi, sebagai presiden saya mengajak semua pihak, para kepala negara dan perdana menteri untuk bersama-sama mempererat barisan untuk memajukan ekonomi Islam di negara masing-masing dengan terus meningkatkan peran serta dan pembelaan kepada sektor UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Ajakan presiden ini seirama dengan apa yang OJK lakukan dengan iBMarcom-nya. Mengapa ini penting? Karena dengan pendekatan jamaah marketing, setidaknya akan mempermudah akses calon nasabah menemukan bank pilihannya. Apalagi lokasi pameran yang dibuat adalah mall-mall. Tentu sangat efektif untuk meningkatkan aware (kesadaran) masyarakat agar mau bertransaksi dengan bank syariah. Selain itu, model jamaah marketing ini dipilih sebagai sinergi antarmarcom untuk lebih memperkuat barisan dalam pertarungan bisnis di industri keuangan yang makin sophisticated.

Di sisi lain, kita juga tidak menutup mata bahwa tahun 2015 sampai semester pertama 2016 ini, industri perbankan syariah masih dililit masalah yang sama yaitu seretnya mesin pembiayaan dan meningkatnya pembiayaan bermasalah (non performing financing). Inilah fakta betapa sulitnya melempar pembiayaan yang sehat dan menguntungkan. Jamaah marketing dibentuk untuk menyikapi masalah ini. Meski pasar belum menggembirakan, namun dengan semangat kebersamaan mengeduksi pasar terus-menerus diharapkan mampu membuat ceruk pasar (market niche) baru yang belum digarap industri lain. Celah pasar inilah yang sekarang sedang dimainkan oleh OJK lewat peran aktif iBMarcom perbankan syariah. Kenyataan ini semestinya disikapi dengan cerdas dengan terus belajar manajemen perubahan. Karena pasar memang tidak menentu. Jangan malah lengah dan tak mau introspeksi diri (muhasabah). Sehingga akan memukul mundur industri keuangan syariah itu sendiri.

Problem-problem seperti SDM, teknologi, dan akses sudah semestinya dilewati. Karena saat ini pasar memang menghendaki industri keuangan syariah itu mudah, murah dan berkah. Bagaimana produknya bisa laku kalau di pasaran harganya mahal dan tidak sesuai kebutuhan (mudah). Maka, tepat kiranya OJK membentuk jamaah marketing ini untuk mengampanyekan produk-produk industri keuangan syariah yang sama bagusnya, sama lengkapnya dan sama modern-nya.

Lalu, bagaimana agar jamaah marketing ini bisa efektif? Ada 3 resep sederhana dan bisa langsung diterapkan. Pertama, fokus tujuannya (goal) hanya untuk memajukan industri keuangan syariah. Bukan untuk memata-matai alias spionase antarlembaga keuangan syariah. Problem mendasar umat Islam adalah sulitnya bersatu tampaknya harus dibuang jauh-jauh kalau ingin tujuan jamaah marketing ini tercapai. Jika tidak, malah akan semakin membuat cela industri keuangan syariah di Indonesia.

Kedua, aksi nyatanya (action) adalah hanya untuk edukasi dan literasi pasar. Sehingga masyarakat semakin terdidik dan terbiasa (mengenal dengan baik) praktik dan manfaat bertransaksi di industri keuangan syariah. Bukan saling berkelahi satu sama lainnya. Di sinilah dibutuhkan kedewasaan sikap dengan menanggalkan ego masing-masing. Karena masalah bisnis seringkali membutakan mata kita dan mendekatkan pada persaingan tidak sehat. Dari sinilah, peranan OJK sebagai regulator dan penenggah berbagai masalah di uji. Sehingga, irama tujuan dibentuknya iBMarcom ini bisa terwujud dengan baik.

Ketiga, jawab keraguan masyarakat dengan bukti nyata (improvement). Cara ini sederhana namun tidak mudah. Nah, para pengurus jamaah marketing sebaiknya lebih sering bertemu untuk memperkuat barisan agar apapun masalah yang dihadapi masyarakat (calon nasabah) bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Keraguan masyarakat bertransakri di industri keuangan syariah harus disikapi dengan memberikan bukti nyata bahwa induatri keuangam syariah sama bagusnya, sama lengkapnya dan sama modern-nya. Ini harus jadi ruh dan spirit dalam marketing dan bermuamalah.

Semoga, dengan semangat jamaah marketing antarindustri keuangan syariah ini mampu mewujudkan industri keuangan syariah yang inklusif, mudah, murah dan menguntungkan baik dari sisi produk maupun layanannya. Ingat adagium markering ini: “marketing is the battle of perception”. Jika industri keuangan syariah sudah terlanjur dipersepsi mahal dan sulit, maka inilah tugas dan PR jamaah marketing. Mampukah jamaah marketing ini memberikan solusinya? Karena tidak ada yang sulit jika kita melakukannya bersama-sama. Mari, kita menjadi bagian dari solusi dengan membuka rekening perbankan syariah/keuangan syariah. Sekali lagi, jawab keraguan dengan bukti!. Bukan dengan janji hanya tinggal janji (PHP/pemberi harapan palsu). Bagaimana menurut Anda?.***

*)Penulis
Abdul Muid Badrun
Bekerja di Bank Syariah HIK dan
Pengurus iBMarcom Perbankan Syariah.

bprshik

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *