“Happy Phone” Dari 5 Juta Menjadi 5 Miliar “Happy Phone” Dari 5 Juta Menjadi 5 Miliar
Berawal dari niat mencari modal Rp. 15 juta, Agus Supriyadi (32), berangkat ke Jakarta menyusul orangtuanya. Dengan uang itu ia berharap bisa membuka bisnis... “Happy Phone” Dari 5 Juta Menjadi 5 Miliar

Berawal dari niat mencari modal Rp. 15 juta, Agus Supriyadi (32), berangkat ke Jakarta menyusul orangtuanya. Dengan uang itu ia berharap bisa membuka bisnis es di Kalimantan. Sesampai di Jakarta tahun 2003, Pak Agus (begitu biasa ia disapa), bekerja sebagai operator foto kopi di daerah Grogol.
Pria asal Gunungkidul ini tak puas, dan langsung pindah kerja ke “Cantik Phone” yang ada di Petukangan. Nah, dari sinilah kesuksesannya dimulai. Selama 1.5 tahun kerja di “Cantik Phone”,

Pak Agus dipekerjaan di berbagai bidang. Mulai dari sales counter, bagian gudang, cek barang sampai bagian supply ia jalani. Dari sinilah berkah itu berasal. Sambil bekerja, ia belajar ilmu bisnis Hand Phone (HP). Sampai akhirnya 2005, ia keluar dan membuka bisnis HP sendiri dengan bendera “Happy Phone”.
Dengan modal dari jual motor, jaket dan helm, ia memperoleh uang Rp. 9,5 juta. Dari uang ini, ia menyewa ruko kecil seluas 2x10M2 dengan cara mencicil. Bulan pertama pendapatan Rp. 5 juta, bulan kedua naik jadi Rp. 11 juta dan begitu seterusnya. Hingga 2016 ini, omset “Happy Phone” telah mencapai Rp. 30 milyar per bulan atau rata-rata 350-400 milyar per tahun. Dengan jumlah karyawan 220 orang dan 56 outlet se-Jadebotabek dan Jawa Barat, Pak Agus bisa dibilang sukses di bisnis HP.

“Ketika bisnis HP ini mulai berkembang, saya “tergoda” membuka bisnis-bisnis lainnya. Mulai restoran, property, karaoke keluarga, peternakan, jamur, martabak, dan pembiayaan, semuanya tutup,” ujarnya menjelaskan. “Dari kegagalan inilah, saya seperti diingatkan Allah untuk istiqomah dan fokus ke bisnis HP,” tambahnya.
Nah, pada akhir 2006, lewat seorang teman, Pak Agus berkenalan dengan BPRS HIK. “Pembiayaan awal ke HIK sebesar Rp. 100 juta, saya gunakan untuk beli rumah seharga Rp. 120 juta”, ujarnya pada kami. Hingga lebih dari 10 tahun, “Happy Phone” tetap setia menjadi nasabah HIK dengan pembiayaan mencapai Rp. 5 miliar. “Keunggulan pembiayaan HIK itu ada dua kata kunci, mudah dan simple”, katanya.
Setelah rumah terbeli, Pak Agus mulai mantap menjalankan bisnis HP-nya. Cerita gagal jadi pijakan untuk fokus pada bisnis intinya: HP. Dari bisnis HP ini saya sudah lebih dari cukup. “Dari tiada menjadi ada”, demikian ia menyimpulkannya dan menutup pembicaraan dengan kami.***amb

bprshik

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *